Kamis, 01 September 2016

Kisah Hijrah member Solidaritas Peduli Jilbab (SPJ) Palu by Nadia Azzahrah Apok

Kisah hijrah

Karena teman-teman Solidaritas Peduli Jilbab (SPJ) Palu sudah meminta di grup WA, maka ini harus kutuliskan segera. Ini hanya sepenggal kisah dariku, semoga teman-teman mendapatkan pelajaran (ibroh) dari kisahku ini. Karena sesungguhnya inilah bagian dari skenarioNya untukku.
Aku adalah Bungsu dari 3 bersaudara. Hidup dilingkungan religius dari kecil membuatku akrab dengan pakaian tertutup lengkap dengan hijab. Menurut cerita mama, saat aku umur 2 tahunan tepatnya saat lancar berbicara aku selalu meminta dipakaikan jilbab sama sepreti mama jika ingin keluar rumah. Jadi sebelum sekolah TK-pun aku sudah akrab dengan hijab. Mama & Papa adalah pasangan guru honorer di MTs Nurul Huda Banggai. Pakaian seragam sekolah dengan rok & jilbab tak lagi asing bagiku. Mengajar mengaji sehabis magrib kepada anak-anak di Asrama Nurul Huda menjadi rutinitasku sejak aku khatam al qur’an pertama kali, mungkin usia SD kelas 2 atau 3. Tak heran jika seragam sekolahku mulai TK, SD, SMP hingga SMA pun menggunakan hijab. Walaupun hanya pendidikan TK & SD saja yang kutempuh di sekolah Agama yaitu TK Nurul Huda Banggai & MIN Tano Bonunungan Banggai. Lalu kumelanjutkan di sekolah Umum SMP N 1 Banggai lalu ke SMA N 1 Banggai. Memang hijab selalu melekat dikepalaku, namun sayang itu hanya saat berseragam sekolah, les atau agenda-agenda OSIS. Apalagi di zaman Sdku dulu lagi nge-hits penyanyi cilik Mega Utami & Maisy. Setelah nonton lagunya setiap Ahad pagi di rumah tetangga sorenya pasti gaya rambut dari dua artis cilik itu sudah ku tiru. Ya rumah tetangga, dulu rumah memiliki televisi sangat jarang ditemukan dikompleks kami. Jalan-jalan sore sambil menjaga adik dengan rambut gaya baru setiap harinya. Begitulah keseharianku jika sepulang sekolah.
Hingga suatu hari, saat aku terlibat dikepengurusan OSIS di SMA. Aku menjadi anggota OSIS bidang I. Kerohanian Islam. Mudah-mudahan saja bukan karena melihat jilbabku yang sebenarnya masih abal-abal. Hanya karna alasan sebagai Pengurus OSIS di bidang inilah menjadikanku WAJIB jadi panitia Pesantren Kilat (PESKIL), saat itu kalau tidak salah ingat Romadhon tahun 2006. Padahal teman se-kelasku, se-angkatanku bahkan kakak kelasku semua jadi peserta. Teman teman se-angkatanku dari kelas Xa hingga Xe lalu kakak kelas yg XIIA1, XIIA2, XIIS1, XIIS2 & kelas Bahasa menjadi pesertanya. Perasaan bangga hadir mengisi hatiku, Astagfirullah semoga saja Allah memaafkan sifat sombongku itu. Tak ubahnya senior yang lain, sebagai panitia kami wajib mengatur peserta & menegurnya jika tidak mengikuti aturan panitia.  Pembina OSISpun sepenuhnya menyerahkan semuanya kepada panita yang sebagian mereka adalah anak-anak Pelajar Islam Indonesia (PII) saat itu aku belum terlalu mengenal PII. Berbekal brifing panitia setiap awal sahur mulailah aku berlagak layaknya panitia. Tak pandang senior atau junior yang jelas aku panitia anda peserta, jika ingin lulus PESKIL anda wajib mengikuti titah panitia, maklumlah saat itu Nilai PESKIL SEKOLAH menjadi salah satu penilianian dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
Hari-hari PESKIL berjalan seperti biasanya, saya yang mengikut saja. Memarahi peserta jika minum dalam keadaan berdiri apalagi sambil jalan, menegur jika melihat peserta makan menggunakan tangan kiri, menumbuk meja dengan keras jika mereka lupa berdo’a sebelum makan, mengangkat telunjuk dengan muka geram saat peserta belum bergegas ke masjid hingga adzan hampir usai bahkan melaporkan nama-nama peserta ikhwan yang lancang berkunjung ke kamar peserta akhwat walaupun hanya depan pintu kamar nanti mereka akan di sidang oleh panitia senior dan aku seperti merasa tertawa puas melihat mereka berhasil kutangkap basah. Apalagi peserta akhwat yang lalu lalang tanpa merapikan dengan benar jilbab dikepalanya, mereka akan menjadi bulan bulananku dengan kakak-kakak panitian akhwat lainnya. Bedanya mereka paham hukumnya sedangkan aku hanya mengikuti saja, dengan alasan “eh saya kan panitia juga”.
Hingga tibalah malam puncak yang menjadi titi balik kehidupanku, yang membuatku terkagum-kagum dengan mereka yang kukenali anak-anak PII juga terpesona dengan Islam yang sangat luar biasa mengatur segala seluk beluk kehidupan manusia.
Malam itu rapat panitia agak tertutup, tidak semua panitia dilibatkan. Hanya yang jilbabnya rapi celananya bukan jeans & yang selalu pakai rok saat PESKIL. Lagi lagi saya lolos dalam hal ini hanya karena ikut-ikutan. Dan belakangan aku mengetahui ternyata alasan lain aku diizinkan terlibat dalam settingan malam itu karena aku dinilai sedikit banyak mampu berakting untuk menyukseskan setting-settingan mereka ini. Awalnya aku belum paham namun lama kelamaan mengikuti alur rapat yang sangat alot itu akhirnya akupun mulai mengerti arah pembicaraan. Bahwa malam ini adalah malam terakhir. Materi jihad. Tugas panitia adalah membuat malam ini menjadi malam yang paling berkesan agar semua materi materi-materi yang sudah didapatkan semua peserta dari hari pertama bisa pelan-pelan merek aplikasikan dalam kehidupan mereka, agar mereka terbiasa menjaga hijab antara ikhwan & akhwat, agar mereka rutin tilawah di rumah, agar mereka mampu melanjutkan kebiasaan-kebiasaan menghidupkan sunnah-sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam yang sudah hampir seminggu dibangung & dibiasakan pada mereka di sini dan terakhir yang merupakan tugasku & tim panitia akhwat lainnya adalah AGAR MERAKA MAMPU MEMPERTAHANKAN JILBAB MERAKA tidak hanya di PESKIL tapi juga saat sekolah & kesehariannya. Ya mereka. Saya masih berfikiran fokus pada mereka para peserta. Masing-masing tugas sudah dibagikan, skenario telah dimatangkan, latar bahkan timing sudah diatur, setelah pemateri tentang jihad memberikan kode dari dalam ruang materi, mulailah kita berolah akting dengan bekal kalimat-kalimat yang sudah diajarkan & kami harus mampu meyakinkan para peserta tentang materi yang masing-masing kita bawakan. Untuk tim panitia akhwat kita sudah berbagi tugas siapa yang akan memarah-marahi mereka dalam ruangan, siapa yang akan membela mereka, siapa yang jadi tim penyelamat saat ada bentrok langsung antara panitia & peserta, siapa yang jadi benteng di pintu jika panitia pengacau berhasil kabur dari dalam rungan agar peserta tidak berhasil mengejarnya hingga keluar ruangan dan siapa yg mengambil kesimpulan/penutup materi agar peserta kembali tenang. Semua sudah diatur rapi. Termasuk segala alat tulis menulis barang tumpul & tajam sudah diamankan oleh panitia sesaat sebeklm materi dimulai, karena dalam keadaan emosi yang tidak terkontrol pulpenpun bisa jadi senjata untuk melawan. Begitu kata pemateri, ya saya mengikut saja.
Hingga tiba saatnya, ketika perasaan & emosi peserta sudah dalam genggaman pemateri. Tekad kuat mereka untuk berjihad di jalan Allah telah terbentuk,siap menumpas siapapun musuh Allah dimuka bumi, siap menjalankan ibadah sesuai tuntunan Agama untuk mengkokohkan Islam, dan saat semuanya matang tibalah satu persatu panitian menguji nyali mereka menguji ksungguhan mereka. Suasana semakin alot & panas, yang terdengar teriakan remeh dari panitia namun disambut dengan takbir menggungah dari para peserta, serentak bulu kudukku merinding, Ya Allah apa yang terjadi. Agar azzam betul betul mengkristal. Beginikah suasana saat musuh-musuh Allah melakukan pembantaian di tanah Arab? Suara perempuan-perempuan merontak dengan takbir yang merontokkan keberanian musuh dengan seketika. Ya Allah,  haru biru merasuk dalam hatiku. Takbir takbir dan takbir terus yang terbesit dalam hatiku. Semakin larut semakin menggugah. Hingga tibalah sesi dimana panitia akhwat yang melancarkan aksinya termasuk aku salah satunya. Salah seorang panitia menerangkan tentang kewajiban muslimah dengan lantang hingga tak ada satupun kami yang merasa pantas lagi untuk memamerkan aurat ini, lalu disusul dgn seorang panitia yg datang dengan tiba-tiba secepat kilat mengoyak-ngoyak jilbab para peserta yang mulai muncul komitmennya untuk berhijab, satu pukulan mendarat di pelipisnya sebelum ia berhasil kabur keluar dari ruangan lalu diamankan oleh panitia di luar ruangan. Tibalah masaku. “ AAAAHHHHHHRRGGGGHHHH, Munafik kalian semua, hari ini malam ini kalian mati-matian membela diri kalian, mempertahankan jilbab di kepala kalian, menutup rapi rambut-rambut indah kalian, tapi setelah malam ini, setelah kegiatan ini. APA? APA? APA? Percuma !.  jika kalian kembali memamerkan rambut indah terurai. Percuma!  jika setelah ini jilbabnya masih buka pasang. Di rumah buka sekolah pasang. Percuma !. Munafik kalian semua. Munafik! Jelas jelas menutup aurat itu kewajiban muslimah, mau miskin mau kaya, mau cantik atau tidak cantik, rambut lurus rambut keriting, kulit hitam kulit putih, semua muslimah itu sama. Wajib menutup auratnya, seluruh tubuh kecuali wajah & telapak tangan. Buka saja jilbab kalian sekarang! BUKA !!!. Tidak ada gunanya menagis malam ini mempertahankan jilbab di kepala kalian matian-matian lalu besok pagi saat pulang ke rumah tetap saja kembali ke masa jahiliyah, buka saja jilbab kalian. BUKA !. sambil mengitari ruangan itu, aku menatap semua wajah teman-teman kelasku teman-teman dekatku, ku tatap mata beningnya satu persatu dengan tangan yang erat menjaga jilbabnya agar tak terlepas akibat tarikan kasar dari panitia termasuk aku. Tak sadar air matakupun menetes, basah pipi ini seperti mereka yang didalam yang baru saja kunasehati adalah diriku sendiri, terbayang semua perbuatanku terhadap auratku selama ini. Hingga dada sesak mengingat dosaku tentang aurat ini aku tak sadar bahwa sebuah tonjokan berhasil mendarat di daguku, seorang teman yang melihat posisiku terancam segera berlari dan mendorongku menuju pintu keluar kelas, semua panitia akhwat diserbu ku tak tahu lagi siap yang memukulku & siapa yg menarikku keluar untuk diamankan, yang paling tak bisa kulupa saat bunyi selembar kain ssssssrsrrrrrtttttttt terdengar sangat dekat dari telingaku. Ya Allah ya Rabbi. Apa yang terjadi. Dada ini sesak, air mata membuncah, suaraku bergetar, takbir takbir lalu takbir. Sambil melindungi kepalaku semampuku bergetar suaru bertakbir “Allahu Akbar!” “Allahu Akbar!” “Allahu Akbar!” jangan lepas jilbabku teriaku lagi jangan buka auratku, tolong tolong aku ya Allah tolong, ampuni aku. Tubuhku jatuh terkulai tepat di tiang depan kelas. Setelah berhasil ditarik-tarik oleh panitian tim penyelamat dari serbuan peserta akhwat di dalam ruangan. Semua mempertahankan jilbabnya dan menyerang siapapun yang mengancam terlepasnya jilbab dari kepalanya. Takbir bergema dimana-mana. Aku menangis sebisa-bisanya. Ya Allah aku mohon ampun atas semua dosa-dosaku, dosa dari kelalaianku menjaga auratku. Pipiku makin basah. Hingga seseorang menutup kepalaku dengan sajadah ditangannya kutak ingat lagi itu siapa sambil melindungi ku dengan cepat sajadah ditangannya mampu menutupi bagian belakangku sambil berkata ”Fhi rambutmu dibelakang kelihatan” sepertinya jilbabmu ini robek. Ganti dulu jilbabmu dek, baru kesini lagi. Aku segera berlari menuju ruang istirhat panitia akhwat dengan terseok seok, belum terlalu kurasa sakitnya tubuhku yang sangat di keesokan harinya. Yang aku tahu akulah salah satu hamba yang selama ini masih melalaikan kewajibanku, sholat, bakti pada orang tua & lalai menutupi auratku. Lampu ruang kelas yang sengaja dimatikan sebelum meninggalkan ruangan yang telah berubah menjadi kamar panitia akhwat ini, menambah suasana haru nan syahdunya atas penyesalanku ya Allah terimalah taubatku. Sinar lampu dari teras depan kelas yang masuk menembus ventilasi ruangan seakan berkata dalam kegelapan ini masih ada cahaya remang yang dapat kau nyalakan dengan terang, setelah taubatmu masih ada kesempatan memperbaiki semuanya. Allah maha pemaaf Allah maha pengampun segala dosa. Kutarik napas panjangku, kuseka air mataku, kutenangkan hati denga istigfar, dengan tertatih ku melangkah menuju saklar lampu kelas, aatagfirullahaladziim astagfirullahaladziim astagfirullahaladziim. “Tek” jariku berhasil meraih tombol saklarnya, seketika terang benderang. Harapan itu masih ada. Aku bisa lebih baik dari hari ini. Ya Allah ya Rabbi ampuni dosaku, terimalah taubatku. Kuraih potongan kain yang hampir lepas dari kepalaku. Benar saja. Kerudung putih yang selalu kupakai setiap rabu kamis ini, yang akrab dengan mistar jilbab dan jarum pentul ditengan atas ubun-ubunku ini berhasil sobek hingga sisi kiri kanannya, hanya sehelai lagi di sisi kanan yang masih mampu bertahan untuk tetap melengket dikepalaku, jelas saja bagian dalam dari kain kerudung segitiga yang sengaja kulipat lebih kecil di dalamnya agar kerudungku menjuntai lebih lebar ke bawah tak mampu menutupi rambut panjangku hingga pinggang. Sejadah ini menjadi bagian dari perisai mahkotaku saat kuberlari meniggalkan kerumunan orang-orang baik di sana orang-orang calon pemghuni syurga yang insyaAllah istiqomah. & insyaAllah akupun bisa terus istiqomah. Ku ambil mukena putihku ku kenakan dengan rapi kuhapus lagi air mataku, kembali ku melangkah bergabung bersama meraka teman-temanku. Ya aku siap. Saat ini jilbabku lebih panjang dari yang awal kukenakan. Aku mengenakan mukenaku.
Hidayah adalah nikmat Allah yang tidak semua mendapatkannya. Hanya mereka yang berusaha mencari yang akan dipertemukan dengannya. Beruntunglah kita yang telah menjumpainya setelah sekian lama berjuang mencari sinyal-sinyal kasih sayang Allah untuk bisa membawa diri berhijrah berburu bekal dunia akhiraat. Semoga kita yang telah melewati jalan hijrah ini bisa bertahan dalam jalan juang ini dan mengajak sebanyak-banyaknya muslimah untuk berjalan di jalan yang sama demi menggapai ridho Allah Subhanahu Wata’ala. Kita tak bisa sendiri, jalan ini panjang & penuh rintangan, kita berada disini untuk saling menguatkan saling mengingatkan, maka do’akanlah aku agar aku tetap setia di jalan ini tanpa berpaling dengan gemerlapnya dunia karena hadirmu disisiku akan menguatkanku menempuh jalan ini.
Karena begitulah hidayah, setelah kita memperolehnya tak ada yang menjamin kita akan bisa mempertahankannya, bisa jadi ia pergi saat kapan saja kita “mengusirnya”. Dan jika kalian tahu. MasyaAllah betapa luar biasanya hal yang terjadi dalam hidupku. Banyak sekali perubahan setelah kami selesai PESKIL OSIS di tahun itu. Ada teman yang sebelumnya berpenampilan sangat terbuka ia berani tampil dengan bangga bahwa inilah saya seorang muslimah sejati, ada pula teman yang sebenarnya dia mampu untuk sekedar membeli pakaian baru (red: yang panjang untuk berhijab) tapi tak dilakukannya karena mungkin ia tak sungguh-sungguh mengejar hidayah dari Allah, atau ia tak mampu menangkap sinyal-sinyal kasih sayang Allah yang ditujukan padanya. Ia menutup dirinya menutup pintu hatinya bukan menutup auratnya. Bahkan yang lebih membuatku terharu lagi ada teman yang sangat bersungguh-sungguh menutup aurat ingin berubah saat pertama masuk sekolah ingin menjadi muslimah seutuhnya, tapi karena masalah ekonomi ia tak mampu meyakinkan orang tuanya bahwa dengan berhijab syar’i bisa mendatangkan rezeki lebih bnyak, bahwa dengan berhijab syar’i mampu menjaga kehormatan seorang muslimah & dilindungi dari segala gangguan gangguan. Terbukti perubahan lingkungan yang juga mengikut perubahanku, inilah salah satu rahmat Allah. Dulunya anak-anak gaul dikompleks kalau aku lewat depan mereka mulai lah mereka merayu dengan sapaan “ hai cewek” atau jika jalan berdua dengan teman “halo yang di tengah” atau jika pake baju warna merah misalnya “hai merah.” Sekarang alhamdulillah berubah jadi mengucapkan salam ya walaupun masih dirayu juga, tapi paling tidak lebih sopan & saling memberikan salam saling mendo’akan jika itu tulus ikhlash insyaAllah berpahala. Dan banyak perubahan lingkungan yang perlahan lahan mendukung perubahan kita. Hijrah kita. Semua pihak saling mendukung, Hingga munculah ide dari senior senior akhwat yang terus diadopsi hingga ke angkataku dan angkatan dibawahku semoga saja, bahwa saat pelulusan nanti senior yang berhijab tidak boleh mencoret coret bajunya karena wijib diserahkan kepada adik kelas yang kesulitan untuk seragam baru dengan hijab saat ingin berhijab. Jadi saat PESKIL akan dimulai kumpulan baju seragam sekolah untuk mereka yang bersungguh sungguh meyambut cinta dari Robbnya sudah terkumpul denga rapi dan siap disalurkan.
Nadia Azzahra Apok

Palu. 020916. 02:46:20